Baru-baru ini beredar isu soal ketidaknetralan aparatur negara mendukung pasangan calon tertentu pada Pemilu 2024 hingga melakukan intimidasi. Lembaga survei Political Statistics merilis 70,5% responden menyatakan kurang percaya dengan isu ketidaknetralan tersebut.
Survei dilakukan pada 27 November-5 Desember 2023 terhadap 1.200 responden. Survei dilakukan melalui wawancara tatap muka oleh tenaga terlatih.
Populasi survei adalah warga negara yang sudah memiliki hak pilih yakni berusia 17 tahun. Survei ini dilengkapi dengan analisis media monitoring untuk mengukur sentimen publik terhadap para capres dan politik. Pemilihan sampel dilakukan melalui metode multistage random sampling. Margin of error survei ±2,8% dengan tingkat kepercayaan 95%.
Peneliti senior Polstat, Apna Permana, mengatakan 70,5% responden yang menyatakan kurang percaya isu TNI, Polri maupun ASN tidak netral. Responden juga menyatakan kurang percaya aparat negara melakukan intimidasi.
"Hasil survei Polstat Indonesia menegaskan bahwa mayoritas publik atau 70,5% responden menyatakan 'kurang percaya' terhadap isu yang mengatakan bahwa aparatur pemerintah (khususnya TNI, POLRI, ASN) bertindak tidak netral atau melakukan intimidasi untuk memenangkan pasangan tertentu," kata Apna dalam jumpa pers secara virtual, Jumat (8/12/2023).
Apna mengatakan hanya 23,2% yang percaya terhadap isu tersebut. Sementara 6,3% responden menjawab tidak tahu atau tidak memberikan jawaban.
"Hanya 23,2% responden yang mengaku 'percaya' terhadap isu yang menyebutkan aparatur negara melakukan intimidasi dan bersikap tidak netral dalam menghadapi Pemilu 2024 untuk memenangkan pasangan tertentu," ujarnya.
Apna mengatakan hasil survei Polstat itu menunjukkan isu ketidaknetralan aparat negara hanya bergulir di elite dan tidak menjadi kecurigaan masyarakat. Dia menyebut masyarakat masih menilai aparat negara netral.
"Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa isu ketidaknetralan aparatur negara (TNI,POLRI, ASN) jelang Pemilu 2024 ternyata juga baru menjadi isu elit dan tidak menjadi kecurigaan masyarakat luas. Aparatur negara masih dipersepsikan netral," ungkapnya.
Berikut hasilnya:
Responden diberi pertanyaan: Apakah Anda percaya atau kurang percaya terhadap isu yang menyebutkan bahwa aparatur negara (TNI, POLRI dan ASN) melakukan intimidasi terhadap paslon tertentu dalam rangka untuk mendukung paslon tertentu pada Pemilu 2024 nanti?
Hasilnya:
-Kurang percaya 70,5%
-Percaya 23,2%
-Tidak tahu 6,3%
Sumber : news.detik
Friday, December 8, 2023
Survei Polstat: 70,5% Responden Kurang Percaya Isu Aparat Negara Tak Netral
Thursday, December 7, 2023
Harga Komoditas Hari Ini (6/12): Emas Turun, Batu Bara Anyep, BitCoin US$43.000
Harga komoditas global, khususnya emas turun setelah sempat mencapai level tertinggi sepanjang masa beberapa hari silam. Di sisi lain, harga batu bara juga melandai sementara harga BitCoin terus naik hingga tembus US$43.000. Simak update harga komoditas global termasuk, termasuk emas, batu bara, dan BitCoin.
Harga Emas Harga emas tergelincir pada hari Selasa (5/12/2023) setelah mencapai level tertinggi sepanjang masa di sesi sebelumnya karena dolar AS kembali menguat dan investor menahan diri untuk tidak melakukan taruhan besar menjelang data pekerjaan utama AS yang dapat memberikan kejelasan lebih lanjut mengenai tingkat suku bunga AS.
Harga emas spot turun 0,5% pada US$2.020,29 per ounce pada pukul 15:10 WIB (2010 GMT). Emas batangan sempat naik ke rekor tertinggi $2.135,40 pada hari Senin, sebelum turun lebih dari $100 dalam satu hari dan ditutup lebih dari 2% lebih rendah. Emas berjangka AS ditutup turun 0,3% pada $2,036.30.
"Momentum yang mendorong emas ke rekor tertinggi pada hari Senin mungkin gagal dalam jangka pendek karena ketidakpastian waktu pelonggaran moneter AS, tetapi risiko geopolitik yang lebih luas akan memberikan dorongan menuju puncak baru," kata para analis dikutip dari Bloomberg, Rabu (6/12/2023).
Harga BitCoin BitCoin mengabaikan penurunan di pasar saham global untuk mencapai level tertinggi dalam lebih dari 19 bulan terakhir, sebuah tanda pemisahannya dari aset-aset lain.
BitCoin melonjak sebanyak 4,5% menjadi sekitar US$43.940 di New York pada Selasa (5/12/2023), menambah lonjakan pada hari Minggu dan Senin yang mendorongnya di atas US$40.000 untuk pertama kalinya dalam hampir dua tahun. Sebaliknya, indeks-indeks saham dan obligasi global mengalami penurunan sejak awal minggu ini.
"Perbedaan ini menggarisbawahi rendahnya korelasi kripto saat ini dengan aset makro tradisional lainnya," tulis Sean Farrell, kepala strategi aset digital di Fundstrat Global Advisors LLC, dalam sebuah catatan. Korelasi Bitcoin dengan saham dan emas telah surut pada tahun 2023 karena faktor-faktor khusus kripto membantu memacu kenaikan 160% pada aset digital terbesar ini.
Pendorong utama kenaikan ini adalah ekspektasi bahwa AS akan mengizinkan dana yang diperdagangkan di bursa Bitcoin, yang berpotensi memperluas permintaan untuk token tersebut. Mata uang kripto tertua dan terbesar bahkan menjadi yang terbaik di pasar aset digital itu sendiri, karena Ether naik 1,4% dan mata uang kripto lainnya seperti Dogecoin, Avalanche, dan Polygon turun. Saham-saham yang berhubungan dengan kripto juga memperpanjang kenaikan.
Coinbase, MicroStrategy, dan Marathon Digital semuanya naik untuk hari ketiga, dan masing-masing naik lebih dari 300% tahun ini. Perbesar Harga Batu Bara Harga batu bara ICE Newcastle kontrak Januari 2024 pada perdagangan Rabu (6/12/2023) melemah hampir 1% atau 0,75 poin ke level US$134,5 per metrik ton.
Dilansir dari Bloomberg pada Rabu (6/12/2023), negosiasi diplomatik yang sulit terjadi di COP-28 karena perdebatan mengenai masa depan bahan bakar fosil. Arab Saudi mengatakan bahwa mereka tidak akan menyetujui pengurangan penggunaan energi kotor, sehingga menimbulkan pertanyaan bagi banyak pihak mengenai kontribusi industri energi dalam memerangi perubahan iklim.
Pernyataan ini muncul beberapa jam sebelum dirilisnya sebuah rancangan teks baru sehari sebelumnya yang mengusulkan dua opsi yang saling bertentangan untuk masa depan bahan bakar fosil.
Secara terpisah, utusan iklim AS John Kerry mengkritik beberapa perusahaan minyak Amerika, khususnya Chevron Corp, karena tidak melakukan cukup banyak hal untuk memerangi pemanasan global pada pertemuan Bloomberg Green pada Selasa (5/12/2023).
Miliarder investor Ray Dalio mengatakan bahwa kenaikan suku bunga telah mempersulit proyek-proyek iklim untuk berjalan.
Sumber : market.bisnis
Wednesday, December 6, 2023
Retail Investors Bullish on Gold, But Wall Street Analysts Shift Into Neutral
Gold inched steadily higher last week, with prices seeing bumps following economic data releases, but after the strong and sudden moves of the past month or so, the precious metals' price action was more orderly and less dramatic.
The latest Kitco News Weekly Gold Survey sees retail investors maintaining an overwhelmingly bullish bias this week, while the exact same proportion of market analysts have switched to a neutral assessment of the yellow metal's near-term prospects.
Adrian Day, President of Adrian Day Asset Management, expects gold prices to be little changed during this week. "After the recent run, gold is vulnerable to bad news," he said. "The medium-term fundamentals are very powerful: at some point, the Fed and other central banks will ease tightening before inflation has been conquered and that will be the firing gun for gold. But that's not yet."
Daniel Pavilonis, Senior Commodities Broker at RJO Futures, sees a period of prolonged consolidation for gold now that the geopolitical risk bid has subsided.
"We're right smack at the upper band of this trading range that we've been in for several weeks," said Pavilonis. "Most likely we're not going to see any more rate hikes. We could possibly see some rate cuts in May of next year, but I doubt that's going to happen. I think we're really just going to stay where we're at for a while."
Pavilonis said that while gold prices continue to react to economic indicators, they aren't providing the precious metal with a clear direction. "I think that the market is just trading off of a mixed range of inflation data," he said. "Housing starts, they're still building houses, there's still demand. Employment reports still look relatively strong. The CPI numbers, the big drop was healthcare, supposedly. I would say this week we're still going to be range bound. I don't see anything that's going to break this thing out to the upside. I would imagine it's going to stay where we've been, trading within this 40, 50, 60-dollar range."
"Gold is just going to have trouble moving higher if inflation data continues to weaken and we don't lower interest rates," he said. "I don't know what the driver is going to be if geopolitics isn't there."
Last week, 12 Wall Street analysts participated in the Kitco News Gold Survey. Like last week, three experts, or 25%, expected to see higher gold prices this week, but this week only one expert, representing 8%, predicted a drop in price. The overwhelming majority, or 67%, were neutral on gold for this week.
Meanwhile, 595 votes were cast in Kitco's online polls, and market participants were even more optimistic than they were in last week's survey. 394 retail investors, or 66%, looked for gold to rise this week. Another 125, or 21%, expected it would be lower, while 76 respondents, or 13%, were neutral on the near-term prospects for the precious metal.
This week will be a short one for trading and economic data releases, as Thursday's U.S. Thanksgiving holiday means most of the action will be compressed into the first three days. Highlights include the release of the latest FOMC minutes and October Existing Home Sales on Tuesday, followed by October Durable Goods, University of Michigan Consumer Sentiment for November, and weekly jobless claims on Wednesday.
Everett Millman, Chief Market Analyst at Gainesville Coins, said he believes that the attention of gold investors is moving from the geopolitical sphere to macroeconomics.
"I think that we're seeing a shift in the focus of the gold market away from the war premium that we saw, that certainly drove gold higher in recent weeks," he said. "I think that's becoming less of a central concern for the gold market, and now the attention is shifting more toward the macroeconomic picture and particularly, what Fed policy is going to be."
Millman said the consensus now is that the Fed is most likely done hiking rates, and the gold market is really going to be focused on how soon the rate cuts will come. "Lower interest rates are basically the biggest bullish driver out there for gold, outside of a deep recession," he said. "I think the economic data have been a bit mixed. I see so many takes about how strong the economy actually is, and yes, there's some data showing that. But then there's just as many examples or indicators you can look at on the other side."
"I think that spells a period of sideways movement or consolidation for gold until we get some clearer pictures on economic conditions."
Millman also said that under this Federal Reserve Chair, gold traders can't afford to wait for interest rate cuts to get into their positions, unlike during Feds past.
"This is very different from the Greenspan era, where he basically was trying to cloak what the Fed was going to do so no one could front-run it," he said. "Now the Fed does directly telegraph these things, and Powell has repeatedly acknowledged that these policy actions act with a lag, and traditionally that lag could be as long as 18 months. So I think it actually makes some sense that markets are going to go off of the signal rather than the action, because we do know that these changes in interest rates, or things like switching from QE to QT, that these types of policy decisions take 12 to 18 months to fully work their way into the economy and actually affect markets."
"Obviously, if there is that long a lag, then market participants have to go off of the signal and work ahead, because if you're waiting to react to the actual consequence, like that lagged result, then you're going to be so far behind the eight ball," Millman said. "They know that this 500-basis-point change in interest rates occurred in a very short span of time, but we're still not the full year and a half out, we're getting close. I think that definitely factors into the calculus here."
Ole Hansen, head of commodity strategy at Saxo Bank, said he doesn't see any big moves for gold in the near term. "Having been so ‘lucky' to hit it spot-on last week, I'm now looking for additional consolidation this week, so the call is NEUTRAL."
Colin Cieszynski, Chief Market Strategist at SIA Wealth Management, is also neutral on gold for this week. "My reasoning is that between the usual late month drop-off in economic news and this week's US Thanksgiving holiday, markets in general are likely to be quieter for the next ten days."
Darin Newsom, Senior Market Analyst at Barchart.com, is bullish on gold's prospects this week. "Dec gold's short-term uptrend firmed this past week, with the contract hitting a high of $1,996.40 early Friday," he said. "If the contract closes lower Friday, based on the Benjamin Franklin Fish Analogy (Like guests and fish, markets start to stink after three days of moving against the trend), Dec gold could move lower Monday and Tuesday as well."
"Using Elliott Wave Theory, this would be considered Wave 2 of the 5-wave short-term uptrend pattern," Newsom said. "Ultimately, the contract would be expected to take out the Wave 1 high."
Marc Chandler, Managing Director at Bannockburn Global Forex, has a neutral bias for this week. "Gold bottomed near $1931 in the spot market on Monday and reached almost $1993.50 today, ahead of the weekend," he said. "The main drivers appear to be the drop in US rates and the dollar. It is not inflation but the decline in inflation (US and UK reported in recent days) that presses rates lower and knocks a leg from under the dollar."
"Lighter economic calendars this week and the market is pricing in 100 bp of Fed cuts next year," Chandler added. "So, I look for some consolidation throughout the capital market and this could see the yellow metal consolidated. I see initial support in the $1970-75 area."
And Kitco Senior Analyst Jim Wyckoff expects gold prices to make gains this week. "Higher, as charts have turned friendlier, and so has U.S. monetary policy after last week's tamer inflation reports," Wyckoff said.
Source: Kitco News
Tuesday, December 5, 2023
IHSG Hari Ini Dibuka Menguat, Bursa Asia Mayoritas Negatif
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak di zona hijau pada awal perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) Selasa (5/12/2023).
Hal ini berbeda dengan mata uang garuda yang melemah pada perdagangan pasar spot. Melansir data RTI, pukul 09.06 WIB, IHSG berada pada level 7.099,44 atau menguat 0,08 persen (5,8 poin) dibanding penutupan sebelumnya pada level 7.093,6.
Sebanyak 190 saham melaju di zona hijau dan 164 saham di zona merah. Sedangkan 229 saham lainnya stagnan. Adapun nilai transaksi hingga saat ini mencapai Rp 709,48 miliar dengan volume 1,4 miliar saham.
Adapun nilai tukar rupiah terhadap dollar AS di pasar spot pagi ini melemah. Melansir data Bloomberg, pukul 9.02 WIB rupiah berada pada level Rp 15.498 per dollar AS, atau turun 36 poin (0,23 persen) dibanding penutupan sebelumnya di level Rp 15.462 per dollar AS.
Bursa Asia pada awal perdagangan mayoritas pada teritori negatif. Nikkei melemah 1,4 persen (481,4 persen) pada level 32.749,9, Hang Seng Hong Kong turun 1,06 persen (176,2 poin) ke posisi 16.469,78, Shanghai Komposit di level 3.000,24 atau terkoreksi 0,75 persen (22,6 poin), dan Strait Times melemah 0,01 persen (0,27 poin) pada posisi 3.083,81.
Sumber : Finance.detik
Monday, December 4, 2023
Harga Jual Koin Rp 1.000 Kelapa Sawit Tembus Segini
Beberapa uang rupiah logam ada yang sudah ditarik dan dicabut dari peredaran oleh Bank Indonesia (BI). Salah satunya uang rupiah logam Rp 1.000 TE 1993. Pencabutan peredaran itu juga berdasarkan Peraturan Bank Indonesia (PBI) No.14 Tahun 2023.
BI menjelaskan pencabutan dan penarikan uang rupiah logam tersebut dilakukan dengan pertimbangan antara lain masa edar yang cukup lama dan perkembangan teknologi bahan/material uang logam. Adapun uang koin Rp 1.000 itu ciri-cirinya bergambar garuda dan pohon kelapa sawit.Bagi masyarakat yang masih memiliki uang rupiah logam tersebut, masih diperbolehkan menukar ke Bank Indonesia sesuai aturan yang berlaku. Waktu penukarannya 10 tahun sejak dinyatakan ditarik dari peredaran.
Setelah ditarik dari peredaran, uang koin edisi lama itu ternyata sudah banyak dijual di toko online. Harga yang ditawarkan beberapa lapak juga tak main-main, tembus Rp 100 juta per koinnya. Seperti lapak di toko online hijau bernama e-s**** h*****, menjual uang koin 1993 bergambar kelapa sawit seharga Rp 100 juta per koinnya.
"Kondisi mulus terawat baik, koleksi original Bank Indonesia emisi tahun 1993 material chrome nickel, solid bronze, berat 8,60 gram," tulis keterangan toko tersebut, dikutip Minggu (3/12/2023).
Kemudian, lapak lainnya ada yang menjual di bawah Rp 100 juta yakni Rp 98,7 juta per koinnya. Dalam deskripsi toko, uang tersebut diyakini merupakan yang asli.
"Uang koin Rp 1.000 kelapa sawit tahun 1993, sangat cocok untuk menambah koleksi. Penting! ini adalah uang asli, harga yang tertera merupakan harga satuan atau per koin yang bernilai Rp 1.000," jelas toko tersebut.
Toko lainnya ada juga yang menjual seharga Rp 50 juta per koin. Pemilik toko berada di Bandung. Ada juga yang menjual seharga Rp 25 juta. Beberapa juga ada yang menjualnya di bawah Rp 5 jutaan, seperti mulai dari Rp 1,3 juta hingga Rp 1 jutaan.
Tetapi masih banyak juga yang menjual jauh di bawah harga tersebut, misalnya ada yang menjual Rp 25.000 per koin. Tak jarang juga yang menjual Rp 4.000 per koinnya.
"Uang Rp 1.000 kelapa sawit tahun 1993 cetakan pertama, kondisi baru, harga tertera harga perkeping sudah termasuk kapsul holder," terang toko tersebut.
"Uang kuno Indonesia Rp 1.000 kelapa sawit tahun 1993, kondisi bekas pemakaian clear, masih bagus, asli Bank Indonesia. Cek foto baik-baik," terang toko lainnya.
Tanggapan Bank Indonesia
Menanggapi hal tersebut, Bank Indonesia (BI) mengatakan penjualan uang yang telah ditarik dari peredaran diperbolehkan. Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono mengatakan uang tersebut sudah menjadi barang koleksi untuk sebagian orang.
"Boleh aja. Mungkin uang-uang itu sudah jadi collectible items," kata Erwin kepada detikcom.
Terkait harga ada yang ditawarkan mencapai Rp 100 juta, Erwin mengatakan bisa saja hal itu terjadi karena semakin sedikitnya barang tetapi permintaannya meningkat.
"Harga kan terbentuk karena supply dan demand aja. Kalau banyak yang suka sementara barangnya hanya tersedia sedikit, otomatis harganya naik," terang dia.
Friday, December 1, 2023
Tarif Promo LRT Jabodebek Mulai 1 Desember, Ini Rinciannya
Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) Kementerian Perhubungan menerapkan tarif promo pada LRT Jabodebek jelang Hari Raya Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2022-2023. Promo ini akan diberlakukan mulai Jumat (1/12/2023), bersamaan dengan penambahan jumlah trainset beroperasi.
Tarif promo ini dikeluarkan melalui Keputusan Direktur Jenderal Perkeretaapian Nomor: KP-DJKA 266 Tahun 2023 tentang Perubahan Ketiga Atas Keputusan Direktur Jenderal Perkeretaapian Nomor KP-DJKA 147 Tahun 2023 tentang Tarif Promo Angkutan Orang dengan Kereta Api Ringan Terintegrasi di Wilayah Jakarta, Bogor, Depok, dan Bekasi untuk Melaksanakan Kewajiban Pelayanan Publik
Direktur Jenderal Perkeretaapian, Risal Wasal menjelaskan, promo tarif ini diberikan untuk mendorong masyarakat agar dapat memanfaatkan LRT Jabodebek dalam bepergian selama masa libur akhir tahun ini. Adapun aturan tarif promo ini baru ditandatangani pada hari ini.
"Mobilitas masyarakat pada masa libur kali ini diprediksi cukup tinggi sehingga kami berharap LRT Jabodebek ini dapat dimanfaatkan dengan maksimal untuk mengurangi kemacetan di jalan," kata Risal, dalam keterangan tertulis, Kamis (30/11/2023).
Skema tarif promo ini akan diberlakukan mulai Jum'at, 1 Desember 2023. Dengan adanya pemberlakuan tarif promo baru ini, maka masyarakat dapat menggunakan LRT Jabodebek dengan skema tarif sebagai berikut:
1. Hari Kerja Senin sampai Jumat
- Jam sibuk (06.00 s.d 08.59 WIB dan 16.00 s.d 18.59 WIB): mulai dari Rp 3.000 untuk 1 km pertama, ditambah Rp 700/km selanjutnya. Tarif maksimal Rp20.000.
- Jam non sibuk (awal jam operasi s.d 05.59, 09.00 s.d 15.59 WIB dan 19.00 s.d akhir jam operasi): mulai dari Rp 3.000 untuk 1 km pertama, ditambah Rp 700/km selanjutnya. Tarif maksimal Rp 10.000.
2. Hari Sabtu, Minggu, Libur Nasional
Mulai dari Rp 3.000 untuk 1 km pertama, ditambah Rp 700/km selanjutnya. Tarif maksimal Rp 10.000.
Selain memberlakukan tarif promo baru, Risal menyebut, DJKA juga akan menambah rangkaian kereta LRT Jabodebek yang beroperasi menjadi 16 rangkaian per 1 Desember 2023, dari sebelumnya 12 rangkaian. Kemudian, secara bertahap akan dilakukan penambahan hingga keseluruhan 27 rangkaian dioperasikan secara penuh.
"Penambahan rangkaian ini dimaksudkan agar waktu tunggu (headway) dapat dipersingkat menjadi 7-15 menit sekaligus untuk mengantisipasi lonjakan penumpang selama musim libur ini," sambungnya.
Risal berharap, dengan pemberlakuan tarif baru dan penambahan jumlah rangkaian ini, LRT Jabodebek dapat menjadi moda transportasi andalan masyarakat selama berlibur, maupun untuk melakukan kegiatan sehari-hari.
"Kami pastikan LRT Jabodebek siap melayani masyarakat dengan prima sehingga masyarakat dapat beralih menggunakan moda transportasi ini," pungkasnya.
Sumber : finance.detik
Thursday, November 30, 2023
Analisis Bos PPI soal Puan Beda Gaya Politik dengan Kubu Ganjar-Mahfud
Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia (PPI) Adi Prayitno menilai ada tanda-tanda alam yang tidak bisa dibaca dari gaya politik yang berbeda antara Ketua DPP PDIP Puan Maharani dengan kubu Ganjar Pranowo-Mahfud Md. Adi melihat ada strategi dari Puan untuk menjaga keseimbangan suhu politik.
"Nah itu yang kemudian tanda-tanda alam apa yang tidak bisa kita baca. Jangan-jangan memang ini bagian upaya untuk menjaga keseimbangan," kata Adi saat acara Adu Perspektif detikcom x Total Politik di Youtube detikcom, Rabu (29/11/2023).Menurut Adi, Puan mendapat referensi dari orang terdekatnya terkait gaya politik yang harus dilakukan saat ini. Adi menilai gaya politik yang menyerang Presiden Joko Widodo (Jokowi) di situasi saat ini tentu tidak produktif.
"Mungkin Mbak Puan mendapat referensi dan feedback dari orang-orang sekitarnya bahwa menyerang Jokowi dalam kondisi semacam ini memang tidak produktif," ujarnya.
Adi mengatakan serangan yang terlampau jauh bisa menggerus suara PDIP. Namun, di sisi lain, kata Adi, serangan terhadap Presiden Jokowi yang dilakukan PDIP bisa membuat simpatisan Ganjar-Mahfud semakin militan.
"Artinya apa? Jangan sampai ada erosi yang terlampau dalam tingkat daya gerus akibat dari serangan yang cukup terbuka tapi satu hal itu tadi yang saya katakan bahwa dengan kritik ini sebenarnya akan semakin membuat kader-kader PDIP simpatisan Ganjar-Mahfud semakin militan," ujarnya.
Adi memandang PDIP kini sudah memisahkan diri dengan Jokowi. Ibaratnya, kata Adi, seperti minyak dan air yang tidak bisa menyatu.
"Mereka sudah memisahkan antara minyak dan air, antara Jokowi dan PDIP, itulah yang kemudian sedang dipertaruhkan betul," kata Adi.
Sumber : news.detik